0 komentar

Indah-Nya

Ya Rabb, Engkaulah alasan semua kehidupan ini

Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini

Perasaan itu datang dari-Mu

Semua perasaan itu juga akan kembali kepada-Mu

Kami hanya menerima titipan dan semua itu ada, sungguh karena-Mu

Katakanlah ikrar Cinta itu hanya karena-Nya

Katakanlah semua kerinduan itu hanya karena Allah

Katakanlah semua getar rasa itu hanya karena Allah

Dan semoga Allah yang Maha Mencinta, yang menciptakan dunia dengan kasih-sayang,
mengajarkan kita tentang cinta sejati.

(teringat karya Tere-Liye yang minggu lalu baru aku tamatkan)


read more
0 komentar

2 periode hilang

yah... 2 periode hilang begitu saja di depan mata. perasaan apa ini? kenapa begitu menusuk ulu hati. kenapa
begitu menyakitkan? kenapa aku tak bisa menjadi yang terbaik disaat aku sudah meyakininya.

tapi kembali lagi tak ada yang dapat disesali saat ini. karena yang harus aku lakukan adalah kembali berjuang sampai titik akhir dan mendapatkan apa yang ku mau dan ku citakan selama ini.

huftt.. terasa lama.. tak sabar menunggu lagi. semuamya harus segera berakhir. jangan sampai aku kehabisan
periode untuk ketiga kalinya dan yang merupakan periode terakhir di tahun ini.

hanya doa, usaha, pasrah dan satu lagi "keajaiban".  hehehe
read more
1 komentar

1 kata yang cukup membuat aku "letih"

ya.. hanya satu kata saja. namun dengan satu kata itu dapat menampilkan kesulitan yang dibuatnya dalam hidup ku. agak lebay mungkin ya? hehe

tapi memang "kata itu" dapat mewakili perasaan yang aku rasakan sekarang.
cukup dengan menyebutkan kata itu, senyum di bibir ini menjadi kelu.

kali ini "kata itu" kembali membuat aku harus menulis yang tidak hanya sekedar menulis seperti awalnya.
membutuhkan kejelasan, pertanggung jawaban, dan analisis yang cukup "njelimet".

berawal dari diterimanya "judul penelitian" yang tidak memerlukan waktu yang lama, kemudian "pendahuluan" yang disusul dengan seminar. kemudian berjalan ke "gambaran umum" dan "pembahasan" yang cukup menarik perhatian, energi, waktu dan tidak lupa uang. hehe. sampai akhirnya saat ini menyusun "penutup" yang ternyata tidak semudah yang aku pikirkan.

huaaaaa.....
pengen nangis rasanya mengingat kenyataan bahwa aku belum bisa menyelesaikannya. padahal hanya tinggal
beberapa langkah lagi. dan semuanya akan berakhir disini. apalagi melihat teman-teman yang telah menamatkan terlebih dahulu.

sudah lebih dari 5 bulan masa ini berlangsung. awalnya dimulai dengan dorongan untuk menyelesaikan studi.
lalu muncul sedikit demi sedikit dorongan dari teman-teman yang sudah memulainya terlebih dahulu.

kemudian orang tua yang sudah tidak bisa membendung ingin segera melihat anaknya di atas panggung dengan memakai "baju kebesaran" mahasiswa. lalu disusul dengan orang yang mempunyai "arti penting" lainnya di dalam hidup ku yang berniat memberikan motivasi tetapi yang ada membuat aku semakin terpuruk dengan kesulitan ini.

hah.. pengennya segera mengakhirinya. namun jalan menuju keberhasilan itu masih tertutup kabut. dimana aku sendiri pun tidak tahu kapan itu akan selesai dengan "indah" dan mengucapkan aku pun bisa!
yap.. benar. "kata itu" adalah SKRIPSI..
read more
0 komentar

Aktivitas Tertinggalkan

Hari ini, saat ini, dan detik ini, inginnya melakukan aktivitas yang sudah selama ini aku tinggalkan. bergelut dengan dunia tulis menulis yang menurut ku beberapa tahun yang lalu merupakan hal yang sangat menarik. melebihi menariknya menonton film ataupun bermain internet yang saat ini sedang marak dikalangan remaja.


Aktivitas yang dulunya menjadi alasan ku untuk menggeluti lebih dalam jurusan yang aku pilih sekarang, Ilmu komunikasi. alasan satu-satunya yang membuat ku terseret di universitas ini. hehe..


namun akhir-akhir ini (lebih tepatnya beberapa tahun yang lalu ini), aku kehilangan semangat untuk menulis. padahal dari sinilah muncul impian-impian yang terkira harganya. pada awalnya aktivitas ini mulai muncul kembali pada saat aku berada di semester ke 5-6. dan tawaran bagus itu datangnya dari dosen ku sendiri yang mewajibkan bagi kami mahasiswanya untuk membuat karya dalam bentuk buku secara kelompok.


wah...suatu tugas yang menurut ku berat. apalagi dengan kemampuan dan pengalaman kami yang sangat minim di dunia tulis menulis. namun pada saat itu, kata-kata sang dosen yang selalu ku ingat sampai saat ini adalah "kita bisa karena terbiasa, suatu keanehan justru kalau mahasiswaka komunikasi konsentrasi jurnalistik dan studi media tidak dapat membuat karya dalam bentuk buku. dan saya yakin suatu hari nanti, tulisan-tulisan itu akan bermanfaat buat kalian semua."


sebuah dorongan yang menarik dan tentunya menggiurkan. hohoho... walaupun awalnya sedikit pesimis, bisa g ya selesaikan buku ini. and the finally... kita bisa.
buku ku tercetak dan berhasi kami distribusikan. walaupun memang untuk standart buku nasional para peminatnya masih bisa dihitung dengan jari. (yah, maklumlah. penulis belum ada yang mempunyai nama).


selesai demgan buku perdana, semester berikutnya di mata kuliah yang berbeda dan dosen yang sama, kami kembali ditantang untuk membuat buku.


buku kedua dengan anggota yang lebih banyak tetapi tenggat waktu yang lebih cepat. dan alhamdulillah bisa selesai dengan tepat waktu juga.. hehe


and now.. aku dihadapi lagi dengan kemampuan menulis yang harus aku tuangkan di dalam sebuah karya tulis yang biasanya disebut "skripsi"...


huahahaha.. mau tahu pengalaman ku selama menulis dan menyusun skripsi?
kita bahas di postingan selanjutnya ya.
read more
2 komentar

"Ntumbu tuta" bukan ajang perkelahian

Kalau jalan-jalan ke bima, tidak enak rasanya bila tidak menonton tradisi unik nan lucu ini. Mungkin bagi masyarakat lain, tradisi ini terlihat aneh, 2 orang melakukan adu kepala tanpa terasa sakit sedikitpun. Untuk dapat melihat sebagian dari kekayaan itu, Anda harus mendatangi beberapa desa yang penduduknya masih bisa atau menguasai proses pelaksanaan adu kepala dan tarian dengan senjata tajam. Datanglah ke Desa Maria, Kecamatan Wawo. Sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Bima ke arah timur. Bicaralah dengan Kepala Desa, karena untuk melaksanakan tarian itu harus mengerahkan cukup banyak penduduk. Soal biaya bisa dirundingkan. Kira-kira sekitar Rp. 1 – 2 juta, tergantung lama pertunjukkan yang pastinya akan dilaksanakan di halaman lumbung khas Masyarakat Bima.

Bunyi benturan dua kepala, dipastikan membuat ngilu penonton. Tapi dua orang pemilik kepala yang diadu tenang-tenang saja. ”Jangan khawatir, tidak akan ada yang terluka, semuanya masih bugar. Boleh coba, jangan takut, pasti tidak akan sakit.” ajak Sulaeman Hemon, 64 thn, juru mantra Desa Maria kepada penonton.

Di sinilah kuncinya. Sebelum atraksi, Sulaeman membaca mantra sambil membawa air putih. Beberapa orang yang akan mengadu kepala ikut komat-kamit. Lalu, mereka mengusapkan air putih tadi ke kepala, dahi, kemudian meminumnya. Mantrapun bekerja. Setelah mengambil ancang-ancang, mereka saling seruduk dan mengaku tidak merasakan apa-apa.

Adu kepala atau Ntumbu merupakan kesenian yang dulu sering dimainkan di setiap pesta dan ritual adat. Selain Ntumbu ada juga Tari Manca dan Buja Kadanda. Dua tarian ini juga menggunakan mantra. Pasalnya, dalam tarian itu terjadi saling serang dengan menggunakan pedang dan tombak betulan.

Memeriahkan suasana, setiap ritual kesenian diiringi musik khas Bima, utamanya lewat Tabuhan Gendang dan Tiupan ”Silu” (alat musik tiup semacam terompet yang terbuat dari daun lontar). Meriah, penuh warna, mengandung unsur magic, tapi tidak menakutkan.

Tertarik? Datanglah dan ikuti petualangannya. Anda bisa kok melakukan sendiri adu kepala tersebut. Hehehe

read more
0 komentar

Pacuan Kuda Bima


Inilah satu lagi keunikan Bima. Acara "pacoa kuda" (pacuan kuda) sudah menjadi kegiatan rutin dan tradisi sekitar. Datang ke Bima berarti harus meluangkan waktu menonton Pacuan kuda. Lupakan Khayalan tentang hotel mewah dan spa. Langsung saja menengok kekayaan adat dan budaya  di Kabupaten paling timur yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini.



Maka, bersiaplah memacu adrenalin. Terjebak dalam kepulan debu, menangkap kibaran warna-warni pakaian joki, pun derap puluhan kaki kuda.Joki cilik beraksi sambil menggerakkan pecut di tangan. Tampil berani, hanya dengan pengamanan sangat minim. Tanpa helm, tanpa pelana dan tanpa alas kaki. Alamiah, menyatu bersama denyut dan dengus napas kuda pacuan.

Pacuan Kuda dan joki cilik merupakan satu dari sekian banyak agenda wisata andalan Bima. Sangat diminati penduduk lokal, juga wisatawan dalam dan luar negeri. Pasukan berkuda ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dahsyat, mempertontonkan keahlian joki-joki cilik. Rata-rata usia mereka tak lebih dari 10 tahun. Gagah sekaligus mengundang cemas.

Terik matahari tak menyurutkan langkah penonton. Termasuk di suatu siang, di lapangan pacuan kuda yang terletak di Desa Sambina’e. Satu aba-aba, tanda perlombaan dimulai segera disambut hamburan debu. Joki cilik yang berumur 5 tahun keatas membungkukkan badan mengikuti irama kaki kuda, memukulkan cemeti untuk memacu laju, sambil menjaga keseimbangan di atas punggung kuda.

Beberapa kali penonton terpekik menyaksikan aksi sikut dan tubruk para joki. Kuda sengaja didekatkan hingga bersinggungan dengan kuda lain. Tujuannya memang menghalangi laju lawan. Sesekali mereka kehilangan keseimbangan, melorot ke samping, namun dengan sigap kembali ke posisi semula.
read more
0 komentar

Uniknya makna upacara U'a Pua


U’a Pua dalam bahasa melayu disebut” Sirih Puan”  adalah satu rumpun tangkai bunga telur berwarna warni yang dimasukkan ke dalam satu wadah segi empat. Jumlah bunga telur tersebut berjumlah 99(Sembilan Puluh Sembilan) tangkai yang sesuai dengan Nama Asma’ul Husna. Kemudian di tengah-tengahnya ada sebuah Kitab Suci Alqur’an.

U’a Pua ditempatkan di tengah-tengah sebuah Rumah Mahligai(Bima: Uma Lige) yang berbentuk segi empat berukuran  4×4 M2. Bentuk Uma Lige ini  terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.

Uma Lige tersebut diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.

Upacara U’a Pua dilaksanakan bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang juga dirangkai dengan penampilan atraksi Seni Budaya masyarakat Suku Mbojo (Bima) yang berlangsung selama 7 hari. Prosesi U’a Pua diawali dengan Pawai dari Istana Bima yang diikuti oleh semua Laskar Kesultanan, Keluarga Istana, Group Kesenian Tradisional Bima dengan dua Penari Lenggo yang dilengkapi dengan Kelompok Penunggang Kuda (Jara Sara’u).

Selama proses pawai berlangsung Group Kesenian terus memainkan Genda Mbojo, Silu dan Genda Lenggo. Ketika memasuki Istana, Penunggang Kuda menari dengan suka ria (Jara Sara’u), Sere, Soka dan lain-lain sampai Ketua Rombongan bertemu dengan Sultan yang diiringi dengan Penari Lenggo. Pada sa’at itu diserahkan ”Sere Pua” dan Al-Qur’an kepada Sultan.


Sumber: wisatamelayu.com dan http://sarangge.wordpress.com

read more
Free Website templatesSEO Web Design Agencyfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates