Tampilkan postingan dengan label Perjalanan ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan ku. Tampilkan semua postingan
2 komentar

"Ntumbu tuta" bukan ajang perkelahian

Kalau jalan-jalan ke bima, tidak enak rasanya bila tidak menonton tradisi unik nan lucu ini. Mungkin bagi masyarakat lain, tradisi ini terlihat aneh, 2 orang melakukan adu kepala tanpa terasa sakit sedikitpun. Untuk dapat melihat sebagian dari kekayaan itu, Anda harus mendatangi beberapa desa yang penduduknya masih bisa atau menguasai proses pelaksanaan adu kepala dan tarian dengan senjata tajam. Datanglah ke Desa Maria, Kecamatan Wawo. Sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Bima ke arah timur. Bicaralah dengan Kepala Desa, karena untuk melaksanakan tarian itu harus mengerahkan cukup banyak penduduk. Soal biaya bisa dirundingkan. Kira-kira sekitar Rp. 1 – 2 juta, tergantung lama pertunjukkan yang pastinya akan dilaksanakan di halaman lumbung khas Masyarakat Bima.

Bunyi benturan dua kepala, dipastikan membuat ngilu penonton. Tapi dua orang pemilik kepala yang diadu tenang-tenang saja. ”Jangan khawatir, tidak akan ada yang terluka, semuanya masih bugar. Boleh coba, jangan takut, pasti tidak akan sakit.” ajak Sulaeman Hemon, 64 thn, juru mantra Desa Maria kepada penonton.

Di sinilah kuncinya. Sebelum atraksi, Sulaeman membaca mantra sambil membawa air putih. Beberapa orang yang akan mengadu kepala ikut komat-kamit. Lalu, mereka mengusapkan air putih tadi ke kepala, dahi, kemudian meminumnya. Mantrapun bekerja. Setelah mengambil ancang-ancang, mereka saling seruduk dan mengaku tidak merasakan apa-apa.

Adu kepala atau Ntumbu merupakan kesenian yang dulu sering dimainkan di setiap pesta dan ritual adat. Selain Ntumbu ada juga Tari Manca dan Buja Kadanda. Dua tarian ini juga menggunakan mantra. Pasalnya, dalam tarian itu terjadi saling serang dengan menggunakan pedang dan tombak betulan.

Memeriahkan suasana, setiap ritual kesenian diiringi musik khas Bima, utamanya lewat Tabuhan Gendang dan Tiupan ”Silu” (alat musik tiup semacam terompet yang terbuat dari daun lontar). Meriah, penuh warna, mengandung unsur magic, tapi tidak menakutkan.

Tertarik? Datanglah dan ikuti petualangannya. Anda bisa kok melakukan sendiri adu kepala tersebut. Hehehe

read more
0 komentar

Pacuan Kuda Bima


Inilah satu lagi keunikan Bima. Acara "pacoa kuda" (pacuan kuda) sudah menjadi kegiatan rutin dan tradisi sekitar. Datang ke Bima berarti harus meluangkan waktu menonton Pacuan kuda. Lupakan Khayalan tentang hotel mewah dan spa. Langsung saja menengok kekayaan adat dan budaya  di Kabupaten paling timur yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini.



Maka, bersiaplah memacu adrenalin. Terjebak dalam kepulan debu, menangkap kibaran warna-warni pakaian joki, pun derap puluhan kaki kuda.Joki cilik beraksi sambil menggerakkan pecut di tangan. Tampil berani, hanya dengan pengamanan sangat minim. Tanpa helm, tanpa pelana dan tanpa alas kaki. Alamiah, menyatu bersama denyut dan dengus napas kuda pacuan.

Pacuan Kuda dan joki cilik merupakan satu dari sekian banyak agenda wisata andalan Bima. Sangat diminati penduduk lokal, juga wisatawan dalam dan luar negeri. Pasukan berkuda ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dahsyat, mempertontonkan keahlian joki-joki cilik. Rata-rata usia mereka tak lebih dari 10 tahun. Gagah sekaligus mengundang cemas.

Terik matahari tak menyurutkan langkah penonton. Termasuk di suatu siang, di lapangan pacuan kuda yang terletak di Desa Sambina’e. Satu aba-aba, tanda perlombaan dimulai segera disambut hamburan debu. Joki cilik yang berumur 5 tahun keatas membungkukkan badan mengikuti irama kaki kuda, memukulkan cemeti untuk memacu laju, sambil menjaga keseimbangan di atas punggung kuda.

Beberapa kali penonton terpekik menyaksikan aksi sikut dan tubruk para joki. Kuda sengaja didekatkan hingga bersinggungan dengan kuda lain. Tujuannya memang menghalangi laju lawan. Sesekali mereka kehilangan keseimbangan, melorot ke samping, namun dengan sigap kembali ke posisi semula.
read more
0 komentar

Pakaian adat "Bodo" bima

Ada yang bilang pakaian adat Bima hampir mirip dengan pakaian adat Sulawesi Selatan. Semua itu memang tidak dapat dielakkan lagi karena ikatan sejarah antara kerajaan Bima dan Makassar, Gowa, Bone dan Tallo itu memiliki hubungan dan ikatan kekeluargaan serta kekerabatan. Proses pembauran dan asimilasi budaya itu telah berlangsung lama dan mempengaruhi juga cara berbusana dan motif busana yang dikenakan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara busana adat Bima dengan Sulawesi Selatan.

Warna yang menonjol dalam pakaian adat Bima antara lain hitam, biru tua, coklat, merah dan kemerah-merahan serta putih. Untuk pakaian wanita memakai kain sarung kotak-kotak yang dikenal dengan sebutan Tembe Lombo. Disamping pakaian sehari-hari pakaian adat juga diatur oleh pihak Kesultanan. Yang diatur oleh Majelis Adat yang disebut KANI SARA. Prosedur dan Tata Cara pemakaiannya pun telah diatur dalam ketetapan Hadat. Dalam kehidupan sehari-hari orang Bima mempunyai pakaian sendiri. Khusus untuk wanita meliputi Baju Poro. Baju ini terbuat dari kain yang agak tipis tetapi tidak tembus pandang. Umumnya berwarna biru tua, hitam, coklat tua dan ungu. Bagi gadis-gadis Bima biasanya memakai warna ungu atau coklat tua. Para wanita pun memakai aneka perhiasan seperti gelang, anting dan lain-lain. Namun terlarang untuk memakai secara berlebihan.


Kaum Pria mempunyai pakaian sehari-hari yang khas. Yang lazim adalah Sambolo atau Ikat Kepala. Umumnya bercorak kotak-kotak dan dihiasi tenunan benang perak/emas. Terkadang lelaki memakai baju kemeja atau baju lengan pendek atau jas tutup dengan warna putih atau hitam atau warna cerah lainnya. Untuk sarung biasanya memakai sarung pelekat yang dikenal dengan nama Tembe Kota Bali Mpida yang bercorak Kotak-kotak atau memaki Tembe Nggoli yang pemakaiannya agak panjang atau terjurai pada bagian depannya.

Untuk hiasan kaum pria memakai Salampe, sejenis dodot yang dililitkan dipinggang. Biasanya salampe berwarna dasar kuning, merah, hijau dan putih. Bagi orang dewasa biasanya menyelipkan pisau pada lilitan Salampe. Letaknya agak ke kiri pusar, sedangkan hulunya agak terjurai ke kanan. Pakaian dan busana adat Bima sangat banyak. Ini adalah kekayaan dan kearifan masa silam yang seharusnya dipertahankan dari terpaan arus globalisasi saat ini. Hanya beberapa saja yang masih dapat dilihat dan diperagakan hingga saat ini. Perlu ada upaya serius untuk melestarikan dengan berbagai kebijakan Pemerintah Daerah agar pakaian adapt ini tidak punah ditelan arus zaman. Perlu ad aide kreatif untuk mempertahankannya misalanya dengan menggelar Show Busana Adat Bima atau menetapkan dalam Peraturan Daerah tentang pelestarian Pakaian Adat Bima.

Sumber: Ensiklopedia Bima, Muslimin Hamzah
read more
0 komentar

3 Primadona Bima

Sepertinya tidak afdol kalau suatu daerah tidak mempunyai produk unggulan kebanggaan. Begitu pula dengan Bima. Produk unggulan Bima yang sudah banyak terkenal diseluruh pelosok negri adalah madu alam Bima, tembe nggoli (sarung tenun) dan mutiara alam. Yaps, ketiganya seakan menjadi primadona Bima.

Madu alam bima merupakan hasil alam yang berasal dari lebah liar (hutan) yang memiliki khasiat tinggi. Hal ini dikarenakan berasal dari nectar berbagai macam bunga dalam hutan asli. Maka tak heran bila madu alam bima banyak dicari baik oleh penduduk sekitar maupun masyarakat luar Bima. Di bima selain madu merah yang sering diketahui, juga terdapat madu putih yang jika disimpan lama akan mengkristal sehingga disebut madu kristal.
Tembe nggoli khas bima adalah sarung tenun khas Bima yang terbuat dari benang kapas (katun) dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan. Sarung tenun khas bima memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan sarung tenun daerah lain yaitu hangat, halus, lembut, tidak mudah kusut, warna cemerlang lebih lama. Bagi orang bima memakai sarung masih menjadi kebiasaan baik bagi pria maupun wanitanya. Wanita bima biasanya memakai sarung sebagai bawahan ataupun sebagai "Rimpu" (cara menutup aurat dengan cara menutup wajah atau mata saja).


Mutiara alam bima sekarang dapat dikatakan sebagai salah satu produk dari Bima, karena semakin banyak penghasil/pengambil mutiara di Bima, misalnya di daerah Karumbu, Sape dan lain-lain.




read more
0 komentar

Sepi yang lezat dan unik


Nah, kuliner khas yang satu ini tak kalah kualitas rasanya dibandingkan kuliner yang lain. Sepi (huruf "e" dibaca kasar) adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang orang Bima biasa sebut dengan sepi bou). Dimana udang rebon difermentasikan dengan garam saja sampai mengeluarkan aroma khas.

Uniknya lagi, sepi bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Tapi, kalau mau menambahkan dengan cabe rawit dan air jeruk purut pun tambah mantap. Rasa sedap dan segar yang dihasilkan dari jeruk purut akan lebih terasa. Sepi juga bisa dikolaborasikan dengan aneka macam bumbu sehingga menghasilkan masakan yang tak kalah lezat. Seperti tumis sepi dengan menggunakan bumbu dapur biasa, lengkuas, sereh dan kemangi. 
read more
0 komentar

Kuliner Uta Maju di Kota Bima


Jalan-jalan ke Kota Bima tidaklah lengkap rasanya kalau tidak mencicipi kuliner uta maju (daging rusa/kijang). Uta Maju di daerah berbeda dengan uta maju daerah lain, karena biasanya daging rusa di Bima diawetkan dengan cara didendeng. Dendeng daging rusa tidak memakai bumbu yang macam-macam seperti dendeng umumnya yang memakai ketumbar dan gula. Tetapi hanya menggunakan garam. Entah karena orang Bima jaman dahulu tidak mengenal bumbu yang lain atau bagaimna, namun cita rasa orisinilnya tidak dapat dikalahkan dengan dendeng umumnya. Sangat lezat dan dagingnya berserat empuk. 

Hal ini menjadi keuntungan tersendiri karena biasanya jenis dendeng seperti ini dapat diolah kembali menjadi berbagai macam aneka macam makanan lagi. Seperti mpal goreng, dendeng balado atau bisa juga disayur atau makanan berkuah. Selain itu juga bukan hanya dagingnya saja yang dapat dibuat dendeng, biasanya orang Bima juga mengubah tulang iga untuk diawetkan. Unik kan? Tidak ada salahnya mencoba kuliner yuk.  

Sumber: bimacenter.com dan http://ademataho.multiply.com
read more
0 komentar

Bima Kota Kerajaan

Museum ASI Mbojo-Bima
Suatu daerah pasti mempunyai asal usul tersendiri, budaya, dan sejarah masing-masing. begitu juga pun dengan Daerah Bima yang dulu pernah merupakan sebuah kerajaan yang swapraja selama lima atau enam abad sebelum lahirnya Republik Indonesia. Sejarah kerajaan Bima hanya diketahui secara dangkal, disebabkan terutama karena pemerintah Belanda boleh dikatakan tidak menaruh minat terhadap Bima, asal keamanan dan ketertiban tidak terganggu. Namun dari Dua sumber lain dapat ikut menjelaskan perkembangan sejarah Bima.


Pertama, ilmu arkeologi yang selama ini hanya mengungkapkan segelintir peninggalan yang terpisah-pisah. Namun ilmu arkeologi itulah yang barangkali akan berhasil menentukan patokan-patokan kronologi terpenting dari masa prasejarah sampai masa Islam. Kedua, sejumlah dokumen dalam bahasa Melayu yang ditulis di Bima antara abad ke-17 sampai dengan abad 20. Bahasa Bima merupakan bahasa setempat yang dipakai sehari-hari di Kabupaten Bima dan Dompu (nggahi Mbojo). Bahasa tersebut jarang, dan sejak masa yang relatif muda, digunakan secara tertulis. Beberapa teks lama yang masih tersimpan dalam bahasa tersebut, tertulis dalam bahasa Arab atau Latin. Tiga jenis aksara asli Bima pernah dikemukakan oleh pengamat-pengamat asing pada abad ke-19, tetapi kita tidak mempunyai contoh satu pun yang membuktikan bahwa aksara tersebut pernah dipakai. Oleh karena itu bahasa Bima rupanya tidak pernah menjadi bahasa tertulis yang umum di daerah tersebut. Pada jaman dahulu, bahasa lain pernah digunakan.
Dua prasasti telah ditemukan di sebelah barat Teluk Bima, satu agaknya dalam bahasa Sanskerta, yang lain dalam bahasa Jawa kuno. Selanjutnya bahasa Makassar dan bahasa Arab kadang-kadang dipakai juga. Ternyata sejak abad ke-17 kebanyakan dokumen tersebut resmi ditulis di Bima dalam Bahasa Melayu.

read more
1 komentar

Pulau Gili Banta dan misteri alamnya


Bima adalah kota sebelah timur pulau Sumbawa sehingga tidak heran bila wisata yang dapat dikembangkan disana adalah wisata laut. Salah satunya wisata Pulau Gili banta Kecamatan Sape Kabupaten Bima NTB. Pulau yang berada di jalur pelayaran Sape-Labuan Bajo ini, berbatasan dengan laut Flores di sebelah Utara dan Barat, sebelah selatan dengan selat sape dan sebelah timur dengan pulau Komodo. Pulau ini adalah pulau yang jarang di kunjungi oleh penduduk maupun nelayan lokal karena arusnya sangat deras dan berputar-putar. Namun di balik keganasan arusnya Gili banta memiliki sejuta pesona alam yang menggelitik jiwa.

Diantaranya pesona terumbu karang bawah lautnya yang berwarna violet dan hitam, rumput laut yang terdapat di sela-sela karang, biota laut seperti kima, lobster, bintang laut, ikan kepe-kepe dan yang lebih menakjubkan setiap bulan Juni-Juli sering terjadi migrasi bagi lumba-lumba dan paus. Jadi, tak ada salahnya kalau mau berkunjung ke pulau ini di bulan Juni atau Juli.

Untuk bisa sampai ke pulau ini memang tidak ada sarana transportasi khusus, disebabkan oleh jarangnya wisatawan yang mengenal pulau ini. Penyebarangan ke Gili banta dari selat sape dapat ditempuh selama 3 jam dengan menggunakan perahu motor.

Sumber: www.kp3k.dkp.go.id

read more
1 komentar

Pesona Torowamba yang tersembunyi

Ini salah satu pilihan tempat wisata di Bima, yah pantai Torowamba. Pantai ini terletak di Desa Lamere Kecamatan Sape Kabupaten Bima NTB. Pantai ini berjarak 2 km dari pemukiman penduduk sekitar dan lebih kurang 6 jam dari kecamatan Sape. Untuk pergi ke pantai Torowamba dapat di tempuh dengan kendaraan beroda dua maupun beroda empat. 



Torowamba memiliki pesona sajian alam yang khas daerah tropis dengan pantai sepanjang 200 meter yang jernih dan hamparan pasir putih. Dimana kita bisa melakukan berbagai aktivitas, seperti berenang, bersantai, diving, memancing, snorkling bahkan berjemur. Selain itu disekitar pantai juga disediakan penginapan yang sangat berartistik lokal. Dijamin deh, kalau berlibur disini pasti sangat menyengkan sekali.


Selain itu kita dapat menikmati karang biru yang beraneka warna dan berbagai macam ikan hias. Di depannya juga terdapat bukit kecil yang menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan agar mengunjunginya. Sungguh-sungguh rahmat Tuhan yang menakjubkan. 


Sumber: http://alanmalingi.wordpress.com
read more
0 komentar

Pulau Ular Sebagai Aset Wisata Bima


Kenapa saya sebut sebagai aset?
Karena pulau ini benar-benar masih alami, belum terjamah oleh tangan manusia dan kenapa disebut pulau ular?
Karena di pulau ini terdapat habibat ular-ular laut. Eits, jangan takut dulu karena ular-ular laut yang berada di pulau ini sudah tergolong ular jinak. 

Pulau ular terletak di tengah perairan bagian timur, lebih tepatnya di Desa Sai Kecamatan Wera Kabupaten Bima NTB. Selain pulau ini masih alami tanpa hunian manusia, pulau ini juga dapat dikategorikan strategis karena terletak di antara dua objek wisata andalan Bima yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Serta dari pulau ini kita dapat memandang pulau Sangiang yang terdapat gunung Berapi Sangiang. Untuk datang ke pulau ular ini hanya diperlukan waktu 2-3 jam perjalanan darat dari Kota Bima menuju ke pantai Oi Caba Kecamatan Wera, setelah itu dilanjutkan dengan menyebrang dengan menggunakan perahu motor penduduk sekitar 15 menit dengan harga Rp. 50.000 per orang (kalau hari libur Rp. 10.000 per orang).

Mendengar kata ular pasti yang terlintas di benak kita adalah hewan melata yang menakutkan, tapi yakinlah kalau ular-ular disini jinak. Malah bila dilihat dengan seksama warna kulit dari ular-ular ini sangatlah unik yaitu warna putih silver kombinasi hitam mengkilap. Katanya waktu yang baik berkunjung ke pulau ini adalah pada saat pagi hari ketika ular-ular berenang ke laut dan mencari makan atau ketika mereka sedang berjemur menghangatkan badan. 

Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, ular tersebut memang berbentuk seperti ular laut. ekornya pipih seperti ekor ikan, warnanya putih silver dan hitam mengkilat. Ketika dipegang tidak terasa licin sama sekali sebagaimana layaknya ular-ular di darat. Kulitnya lebih terasa kesat dan bersirip seperti ikan. Walau hidup liar, mereka sangat jinak dan ramah terhadap pengunjung. Ketika dipegang mereka sama sekali tidak menggigit atau melilit. Bahkan ketika dipegang dalam jumlah yang cukup banyak, ular-ular tersebut tetap jinak. Tunggu apa lagi, ada yang mau kesana?? 


read more
0 komentar

Mengenal Bima ku

       Suatu hari, dosen saya pernah bertanya kota asal mahasiswa-mahasiswanya. Dengan sigap saya pun memberitahukan bahwa kota yang telah membesarkan saya adalah Bima. Tetapi tak lama setelah muncul celetukan-celetukan dari teman mahsiswa, " Bima itu dimana yah?. Koq saya baru pernah dengar".
Aduuh,,rasanya miris sekali, kota ku sampai segitu tidak terkenal dimata teman-teman. Nah, daripada hal itu terulang lagi, sekarang saya mau cerita-cerita tentang kota ku itu, siapa tahu diantara teman-teman nantinya ada yang mau berkunjung kesana.  
            
            Bima adalah sebuah kota yang terletak di sebelah timur Pulau Sumbawa NTB. Kota ini tergolong kota yang panas dan gersang. Inilah sebenarnya yang membuat saya sedikit sedih dengan keadaan kota ku. Dimana-mana hutannya tidaklah berwarna hijau melainkan coklat. Tapi diluar itu semua Bima ku menyimpan sejuta pesona yang rugi bila teman-teman lewatkan.

              Kegiatan yang berkembang di Bima adalah kegiatan di bidang perikanan meliputi usaha budidaya perikanan air laut payau dan air tawar yang banyak menghasilkan ikan Bandeng, udang dan rumput laut.
Selain itu kota Bima juga sebenarnya mempunyai potensi peternakan yang cukup prospektif, tapi karena masyarakat disana yang belum mengerti bagaimana cara mengolahnya, jadi agak tidak dimanfaatkan.

                 Mau tahu lagi keseluruhan tentang kota Bima? Baca aja di postingan-postingan selanjutnya.(ek)

Sumber: wikipedia.org
read more
0 komentar

Indahnya Senduro-Lumajang

           Traveling merupakan kegiatan yang seru dan pastinya disukai semua orang. Begitu pula dengan aku dan teman-teman. Beberapa waktu yang lalu kami mengunjungi rumah salah satu saudara teman ku yang berada di Senduro-Lumajang Jawa Timur. 
Sumber: www.lumajang.go.id
          Senduro adalah sebuah kecamatan di Kabupaten LumajangProvinsi Jawa TimurIndonesiaKecamatan Senduro terletak di sebelah barat kota Lumajang, kurang lebih 17 km dari pusat kota. Kecamatan Senduro merupakan daerah pegunungan pada ketinggian mulai dari 100-2.000 m dari permukaan laut. Kecamatan Senduro terbagi atas 12 desa


(Wikipedia.com).
         
           Ini adalah kali pertama aku datang ke Senduro dan betapa terkejutnya setelah kami sampai disana ternyata daerah ini adalah daerah pegunungan yang tentunya sangat dingin. Daerah ini dikenal sebagai penghasil pisang agung dan rempah-rempah yang katanya sampai di ekspor ke luar negri loh. 
Sumber: Eka
                  
               Tempat pertama yang kami singgahi disini adalah Pura Mandara Giri Semeru Agung. Pura ini merupakan tempat pariwisata yang menarik dan setiap tahunnya banyak orang dari Bali khususnya yang beragama Hindu datang kesini untuk berkunjung dan bersembahyang sekaligus merupakan pura tertua di Indonesia. Sehingga pura ini menjadi aset dan penghasilan masyarakat sekitar. Tak heran bila banyak yang berkunjung disini, karena selain udara yang sangat sejuk, senduro juga memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Namun sayang, pura ini tidak bisa dibuka untuk umum karena pura ini hanya dibuka bila ada upacara keagamaan atau perayaan tertentu. Jadi, kami hanya bisa meliat-liat dari depan pura. 
Sumber: Eka


                  Penduduk disini banyak yang menganut agama Hindu, hal tersebut dapat dilihat di depan rumah mereka terdapat punden (tempat menyimpan sesajen). Semakin naik ke atas, semakin terasa nuansa Balinya dan semakin terasa pula hawa dinginnya. Pemandangan di kiri dan kanan jalan semakin menunjukkan keelokannya. Dimana-mana terhampar sawah para petani, ada yang menanaminya berbagai sayuran ataupun buah dan bunga. 

          Uniknya disini, semua orang baik laki-laki maupun perempuan bisa merokok dimana pun dan kapan pun tanpa ada batasan layaknya di kota-kota. Mungkin hal menjadi tidak tabu lagi dikalangan masyarakatnya karena sudah menjadi kebiasaan dan ternyata itu adalah cara mereka agar mengurangi suasana dingin di sekitarnya. Bila mereka tidak merokok, pastinya tubuh mereka akan selalu merasa kedinginan. Maka dari itu, dimana-mana perempuan terlihat merokok. Baik itu di jalan maupun di rumahnya masing-masing.

         Di sini juga kami jarang melihat kendaraan berlalulalang. Kalaupun ada, itu hanya motor para penduduk yang biasanya di pakai untuk mengangkut hasil kebun atau sawahnya. Penduduk sekitar lebih senang berjalan kaki. (eka)
                       
                  
read more
Free Website templatesSEO Web Design Agencyfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Web Templates